Thursday, December 7, 2017

KONSERVASI SUMBER DAYA HAYATI.

hy...guys yang ngambil jurusan kehutanan, ada ne aku shareing laporan praktikum , mohon komentar untuk berbaikan ke de pannya ya..... selamat membaca.....


...................................................................................................................................................................

FAKTOR ERODIBILITAS TANAH DAN
FAKTOR PANJANG LERENG & KEMIRINGAN LERENG




                                                                                                                                                             

Di Susun Oleh :


Nama                     : Albertus Telaumbanua
NIM                       : CCA 115 017
Mata Kuliah         : Konservasi Tanah Dan Air
Dosen Pengampu  :  Bapak Ir.Setiarno,MP
                                    Ibu  Ir.Rosdiana,MP



KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN KEHUTANAN
2017


...................................................................................................................................................................


                                                        KATA PENGANTAR
            Puji dan syukur Penulis panjatkan kehadiran Tuhan yang Maha Esa karna atas berkat dan Anugerahnya Penulis dapat  menyelesaikan Laporan Praktikum, yang menjadi acuan pelaporan setelah praktikum  di laksanakan,
            Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada Bapak Ir.Setiarno., M.P dan Ibu Ir.Rosdiana.,M.P  Selaku Dosen Mata Kuliah Konservasi Tanah dan Air  yang Laporan Praktikum  ini dapat di selesaikan. Juga kepada semua Pihak yang telah Membantu baik Moral baik pun Materi
            Penulis mengharapkan semoga Laporan Praktikum ini  dapat memberikan manfaat sebagaimana mestinya  dan  dapat di gunakan sebagai bahan referensi dalam Ilmu pengetahuan.








Palangka Raya, 29  April 2017



                                                                                                              Penulis ,















DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR...................................................................................................           i
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………        ii

I.         PENDAHULUAN
A.    Latar belakang................................................................................................................1     
B.     Tujun dan manfaat Penelitian........................................................................................ 1                 
II.      TINJAUAN  PUSTAKA....................................................................................................2

III.   METODE PELAKSANAAN

IV.   PEMBAHASAN
a.       Erodibilitas Tanah........................................................................................................ 3
b.      Kelerengan................................................................................................................... 8
V . PENUTUP .......................................................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................  10


.................................................................................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN


1.1.  Latar belakang
Sumberdaya alam utama yaitu tanah dan air pada dasarnya merupakan sumberdaya alam yang dapat diperbaharui, namun mudah mengalami kerusakan atau degradasi. Kerusakan tanah dapat terjadi oleh (1) kehilangan unsur tanah dan bahan organik di daerah perakaran, (2) terkumpulnya garam di daerah perakaran, (3) penjenuhan tanah oleh air, dan (4) erosi. Kerusakan tanah  tersebut menyebabkan berkurangnya kemampuan tanah untuk mendukung pertumbuhan tanaman (Suripin, 2004).
Bahaya erosi yang telah menurunkan produktivitas tanah merupakan masalah utama dari tahun ke tahun tetap harus dihadapi oleh pemerintah. Bahaya erosi yang menimpa lahan-lahan pertanian serta penduduk sering terjadi pada lahan-lahan yang memiliki kelerengan sekitar 15% keatas. Bahaya ini disebabkan  selain oleh perbuatan manusia yang mementingkan pemuasan kebutuhan diri sendiri, juga dikarenakan pengelolaan tanah dan pengairannya yang keliru (Asdak, 2002).
Untuk mengidentifikasi tingkat bahaya erosi, model yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan model USLE (Universal Soil Loss Equation). Model USLE mempertimbangkan beberapa faktor dalam kajian erosi seperti faktor erosivitas hujan, faktor erodibilitas tanah, faktor panjang dan kemiringan lereng, faktor penutupan dan manajemen tanaman, dan faktor tindakan konservasi tanah (Arsyad, 2010).
Model yang banyak berkembang saat ini adalah model yang menggunakan fasilitas Sistem Informasi Geografis (SIG) yang merupakan suatu sistem (berbasis komputer) yang digunakan untuk menyimpan dan memproses informasi-informasi spasial. SIG dirancang untuk mengumpulkan, menyimpan, dan menganalisis objek-objek dan fenomena-fenomena dimana lokasi geografis merupakan karakteristik yang penting untuk dianalisis (Anonim, 2011a).

Kemiringan lereng terjadi akibat perubahan permukaan bumi di berbagai tempat yang disebabakan oleh daya-daya eksogen dan gaya-gaya endogen yang terjadi sehingga mengakibatkan perbedaan letak ketinggian titik-titik diatas permukaan bumi.  Kemiringan lereng mempengaruhi erosi melalui runoff.  Makin curam lereng makin besar laju dan jumlah aliran permukaan dan semakin besar erosi yang terjadi.  Selain itu partikel tanah yang terpercik akibat tumbukan butir hujan makin banyak (Arsyad, 2000).  Tentunya, derajat kemiringan lereng dan panjang lereng merupakan sifat tofografi yang dapat mempengaruhi besarnya erosi tanah. Semakin curam dan semakin panjang

.
1.2.  Tujuan penyusunan Praktikum
Mahasiswa dapat mengetahui dan mampu menghitung erodibilitas dengan persamaan Matematis dari Suatu Contoh data yang tersedia
       Mahasiswa dapat menegtahui dan mampu menyelesaikan faktor panjang Lereng (L),kecuraman Lereng (S) dalam %  dan (LS) dengan persamaan matematis tertentu terhadap data.


II  TINJAUAN PUSTAKA
Indeks kepekaan tanah terhadap erosi atau erodibilitas tanah merupakan jumlah tanah yang hilang setiap tahunnya per satuan indeks daya erosi curah hujan pada sebidang tanah tanpa tanaman, tanpa usaha pencegahan erosi pada lereng 9 % dan panjang 22 m. Kepekaan tanah terhadap erosi dipengaruhi oleh tekstur tanah (terutama kadar debu +pasir halus), bahan organik, struktur dan permeabilitas tanah (Hardjowigeno, 2003).
Erodibilitas tanah (ketahanan tanah) dapat ditentukan dengan aturan rumus menurut, perhitungan nilai K dapat dihitung dengan persamaan Weischmeier, et all, (1971)

K = 1,292{ 2,1 M 1,14 (10 -4) (12-a) + 3,25 (b-2) + 2,5 (c-3)} /100

Dimana :
M = ukuran partikel (% pasir sangat halus+ % debu x (100-% liat)
% pasir sangat halus = 30 % dari pasir (Sinukaban dalam Sinulingga,1990)
            a = kandungan bahan organik (% C x 1,724)
b = harkat struktur tanah
c = harkat permeabilitas tanah
Erodibilitas tanah sangat penting untuk diketahui agar tindakan konservasi dan pengolahan tanah dapat dilaksanakan secara lebih tepat dan terarah. Namun demikan, Veiche (2002) menyatakan bahwa konsep dari erodibilitas tanah dan bagaimana cara menilainya merupakan suatu hal yang bersifat kompleks atau tidak sederhana karena erodibilitas dipengaruhi oleh banyak sekali sifat-sifat tanah. Berbagai usaha telah banyak dilakukan untuk mendapatkan suatu indeks erodibilitas yang relatif lebih sederhana, baik didasarkan pada sifat-sifat tanah yang ditetapkan di laboratorium maupun di lapangan atau berdasarkan keragaan (response) terhadap hujan (Arsyad, 2000).
Kemiringan lereng terjadi akibat perubahan permukaan bumi di berbagai tempat yang disebabakan oleh daya-daya eksogen dan gaya-gaya endogen yang terjadi sehingga mengakibatkan perbedaan letak ketinggian titik-titik diatas permukaan bumi.  Kemiringan lereng mempengaruhi erosi melalui runoff.  Makin curam lereng makin besar laju dan jumlah aliran permukaan dan semakin besar erosi yang terjadi.  Selain itu partikel tanah yang terpercik akibat tumbukan butir hujan makin banyak (Arsyad, 2000).
Lereng mempengaruhi erosi dalam hubungannya dengan kecuraman dan panjang lereng.  Lahan dengan kemiringan lereng yang curam (30-45%) memiliki pengaruh gaya berat (gravity) yang lebih besar dibandingkan lahan dengan kemiringan lereng agak curam (15-30%) dan landai (8-15%).  Hal ini disebabkan gaya berat semakin besar sejalan dengan semakin miringnya permukaan tanah dari bidang horizontal.  Gaya berat ini merupakan persyaratan mutlak terjadinya proses pengikisan (detachment), pengangkutan (transportation), dan pengendapan (sedimentation) (Wiradisastra, 1999).







III.METODE PELAKSANAAN
3.1. Alat  dan Bahan
Untuk Erodibilitas
1.      Alat Tulis
2.      Kalkulator
3.      Komputer/Laptop

Untuk Kemiringan Lereng
1.      Alat Tulis
2.      Kalkulator
3.      Komputer/Laptop

















IV. PEMBAHASAN
A . Faktor Erodibilitas Tanah
4.1.  Pengertian Erodibilitas tanah
Kepekaan tanah terhadap erosi, disebut erodibilitas tanah didefinisikan oleh Hudson (1978) sebagai mudah tidaknya suatu tanah tererosi. Secara lebih spesifik Young et al. dalam Veiche (2002) mendefinisikan erodibilitas tanah sebagai mudah tidaknya suatu tanah untuk dihancurkan oleh kekuatan jatuhnya butir-butir hujan, dan/atau oleh kekuatan aliran permukaan. Sementara Wischmeier dan mennering (1969) menyatakan bahwa erodibilitas alami (inherent) tanah merupakan sifat kompleks yang tergantung ada laju infiltrasi tanah dan kapasitas untuk bertahan terhadap penghancuran agregat (detachment) serta pengangkutan oleh hujan dan aliran permukaan.
Di negara-negara tropis seperti Indonesia, kekuatan jatuh air hujan dan kemampuan aliran permukaan menggerus permukaan tanah adalah merupakan penghancuran utama agregat tanah. Agregat tanah yang sudah hancur kemudian diangkut oleh aliran permukaan, mengikuti gaya gravitasi sampai ke suatu tempat dimana pengendapan terjadi. Keseluruhan proses tersebut yaitu penghancuran agregat, pengangkutan partikel-partikel tanah, dan pengendapan partikel tanah disebut sebagai erosi tanah.

4.2.  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Erodibilitas Tanah
Erodibilitas tanah dipengaruhi oleh banyak sifat-sifat tanah, yakni sifat fisik, mekanik, hidrologi, kimia, reologi / litologi, mineralogi dan biologi, termasuk karakteristik profil tanah seperti kedalaman tanah dan sifat-sifat dari lapisan tanah (Veiche, 2002). Poesen (1983) menyatakan bahwa erodibilitas bukan hanya ditentukan oleh sifat-sifat tanah, namun ditentukan pula oleh faktor-faktor erosi lainnya yakni erosivitas, topografi, vegetasi, fauna dan aktivitas manusia. Suatu tanah yang memiliki erodibilitas rendah mungkin akan mengalami erosi yang berat jika tanah tersebut terdapat pada lereng yang curam dan panjang, serta curah hujan dengan intensitas yang tinggi. Sebaliknya tanah yang memiliki erodibilitas tinggi, kemungkinan akan memperlihatkan gejala erosi ringan atau bahkan tidak sama sekali bila terdapat pada pada lereng yang landai, dengan penutupan vegetasi baik, dan curah hujan dengan intensitas rendah. Hudson (1978) juga menyatakan bahwa selain fisik tanah, faktor pengelolaan / perlakuan terhadap tanah sangat berpengaruh terhadap tingkat erodibilitas suatu tanah. Hal ini berhubungan dengan adanya pengaruh dari faktor pengolalaan tanah terhadap sifat-sifat tanah. Seperti yang ditunjukkan oleh hasil penelitian Rachman et al. (2003), bahwa pengelolaan tanah dan tanaman yang mengakumulasi sisa-sisa tanaman berpengaruh baik terhadap kualitas tanah, yaitu terjadinya perbaikan stabilitas agregat tanah, ketahanan tanah (shear strength), dan resistensi / daya tahan tanah terhadap daya hancur curah hujan (splash detachment).
Meskipun erodibilitas tanah tidak hanya ditentukan oleh sifat-sifat tanah, namun untuk membuat konsep erodibilitas tanah menjadi tidak terlalu kompleks, maka beberapa peneliti menggambarkan erodibilitas tanah sebagai pernyataan keseluruhan pengaruh sifat-sifat tanah dan bebas dari faktor penyebab erosi lainnya (Arsyad, 2000).
Pada prinsipnya sifat-sifat tanah yang mempengaruhi erodibilitas tanah adalah :
    Sifat-sifat tanah yang mempengaruhi laju infiltrasi, permeabilitas dan kapasitas tanah           menahan air.
      Sifat-sifat tanah yang mempengaruhi ketahanan struktur tanah terhadap dispersi dan pengikisan oleh butir-butir air hujan dan aliran permukaan.

Sifat-sifat tanah tersebut mencakup tekstur, struktur, bahan organik, kedalaman tanah dan tingkat kesuburan tanah (Morgan, 1979 ; Arsyad, 2000). Secara umum tanah dan kandungan debu tinggi, liat rendah dan bahan organik rendah adalah yang paling mudah tererosi (Wischmeier dan Mannering, 1969). Jenis mineral liat, kandungan besi dan aluminium oksida, serta ikatan elektro-kimia di dalam tanah juga merupakan sifat tanah yang berpengaruh terhadap erodibilitas tanah (Wischmeier dan Mannering, 1969 ; Liebenow et al., 1990).

a)      Tekstur
Tekstur tanah menunjukkan kasar halusnya tanah, ditentukan berdasarkan perbandingan butir-butir (fraksi) pasir (sand), debu (silt) dan liat (caly). Fraksi pasir berukuran 2 mm – 50 μ lebih kasar dibanding debu ( 50 μ – 2 μ) dan liat ( lebih kecil dari 2 μ). Karena ukurannya yang kasar, maka tanah-tanah yang didominasi oleh fraksi pasir seperti tanah-tanah yang tergolong dalam sub-ordo Psamment, akan melalukan air lebih cepat ( kapasitas infiltrasi dan permeabilitas tinggi) dibandingkan dengan tanah-tanah yang didominasi oleh fraksi debu dan liat. Kapasitas infiltrasi dan permeabilitas yang tinggi, serta ukuran butir yang relatif lebih besar menyebabkan tanah-tanah yang didominasi oleh pasir umumnya mempunyai tingkat erodibilitas yang rendah. Tanah dengan kandungan pasir yang halus (0,01 mm – 50 μ ) tinggi juga mempunyai kapasitas infiltrasi cukup tinggi, akan tetapi jika terjadi aliran permukaan, maka butir-butir halusnya akan mudah terangkut.
Debu merupakan fraksi tanah yang paling mudah tererosi, karena selai mempunyai ukuran yang relatif halus, fraksi ini juga tidak mempunyai kemampuan untuk membentuk ikatan ( tanpa adanya bantuan bahan perekat/pengikat), karena tidak mempunyai muatan, maka fraksi ini dapat membentuk ikatan. Meyer dan Harmon (1984) menyatakan bahwa tanah-tanah bertekstur halus (didominasi liat) umumnya bersifat kohesif dan sulit untuk dihancurkan. Walaupun demikian, bila kekuatan curah hujan atau aliran permukaan mampu menghancurkan ikatan antar partikelnya, maka akan timbul bahan sedimen tersuspensi yang mudah untuk terangkut atau terbawa aliran permukaan.
Fraksi halus ( dalam bentuk sedimen tersuspensi) juga dapat menyumbat poro-pori tanah dilapisan permukaan akan meningkat. Akan tetapi, jika tanah demikian mempunyai agregat yang mantap, yakni tidak mudah terdispensi, maka penyerapan air ke dalam tanah masih cukup besar, sehingga aliran permukaan dan erosi menjadi relatif tidak berbahaya (Arsyad, 2000).
Berikut ini nilai ukuran butir-butir tanah (M) untuk suatu kelas tekstur tanah.

Tabel nilai ukuran butir-butir tanah (M) untuk suatu kelas tekstur tanah
Kelas tekstur tanah
Nilai M
Kelas tekstur tanah
Nilai M
Lempung berat
210
Geluh lempung pasiran
2160
Lempung sedang
750
Debu
8245
Lempung ringan
1685
Geluh debuan
6330
Lempung debuan
2830
Geluh
4390
Lempung pasiran
3245
Geluh pasiran
3245
Geluh lempung debuan
3770
Pasir geluhan
4005
Geluh lempung
2830
Pasir
3035


b)     Bahan organik
Bahan organik sangat berperan pada proses pembentukan dan pengikatan serta menstabilkan agregat tanah. Pengikatan dan penstabilan agregat tanah oleh bahan organik dapat dilakukan melalui pengikatan secara fisik butir-butir primer tanah oleh mycelia jamur, actionmycetes, dan/atau akar-akar halus tanaman; dan pengikatan secara kimia, yaitu dengan menggunakan gugus-gugus aktif dari bahan panjang, atau gugusan positif ( gugus amine, amide, atau amino) pada senyawa organik berbentuk rantai (polymer).
Bahan organik yang masih dalam bentuk serasah, seperti daun, ranting, dan sebagainya yang belum hancur yang menutupi permukaan tanah, merupakan pelindung tanah terhadap kekuatan perusak butir-butir hujan yang jatuh. Bahan organik tersebut juga menghambat aliran permukaan, sehingga kecepatan alirannya lebih lambat dan relatif tidak merusak. Bahan organik yang sudah mengalami pelapukan mempunyai kemampuan menyerap dan menahan air yang tinggi, sampai dua-tiga kali berat keringnya. Akan tetapi, kemampuan menyerap air ini hanya merupakan faktor kecil dalam mempengaruhi kecepatan aliran permukaan. Pengaruh utama bahan organik adalah memperlambat aliran permukaan, meningkatkan infiltrasi, dan memantapkan agregat tanah (Arsyad, 2000).
Bahan organik di dalam tanah jumlahnya tidak sama antara jenis tanah yang satu dengan yang lainnya seperti Histosol yang mengandung bahan organik > 65 %. Perbedaan kandungan bahan organik ini tergantung pada jenis tanah dan cara pengelolaan tanah. Menurut Puslitanak (2005) Bogor ada beberapa kriteria dari bahan organik sebagaimana disajikan pada Tabel 5.
Tabel . Kriteria Bahan Organik.
No
Kriteria Bahan Organik
Nilai
1.
Sangat tinggi
> 6.00
2.
Tinggi
4.30- 6.00
3.
Sedang
2.10- 4.20
4.
Rendah
1.00- 2.00
5.
Sangat rendah
< 1.00
Sumber : Puslitanak (2005)



c)      Struktur/Agregasi tanah
Bentuk dan stabilitas agregat, serta persentase tanah yang teragregasi sangat berperan dalam menentukan tingkat kepekaan tanah terhadap erosi. Hasil penelitian Meyer dan Harmon (pooly aggregated). Tanah-tanah dengan tingkat agregasi tinggi, berstruktur kersai atau granular, serang, tingkat penyerapan airnya lebih tinggi dari pada tanah yang tidak berstruktur atau susunan butir-butir primernya lebih rapat.
Selain  dipengaruhi oleh tekstur dan kandungan bahan organik, pembentukan agregat tanah dipengaruhi jga oleh jumlah dan jenis kation yang diadsorbsi liat. Pengaruh kandungan besi dan aluminium oksida terhadap tingkat erodiilitas tanah, juga erat hubungannya dengan pembentukan dan penstabilan agregat tanah (Liebenow et al., 1990). Besi dan aluminium oksida membentuk dan meningkatkan kestabilan agregat tanah, melalui peningkatan gugus-gugus negatif dari liat oleh gugus positif dari oksida-oksida tersebut.
Stabilitas agregat tanah sangat berpengaruh terhadap kematapan pori tanah. Tanah-tanah yang mudah terdispensi atau agregatnya tidak stabil menyebabkan pori-porinya tanah juga mudah hancur atau tertutup/tersumbat oleh liat atau debu (erosi internal), sehingga laju dan kapasitas infiltrasi tanah mengalami penurunan.
Struktur tanah merupakan sifat fisik tanah yang menggambarkan susunan keruangan partikel-partikel tanah yang bergabung dengan satu dengan yang lain membentuk agregat. Dalam tinjauan morfologi, struktur tanah diartikan sebagai susunan partikel-partikel primer menjadi satu kelompok (cluster) yang disebut agregat yang dapat dipisah-pisahkan kembali serta mempunyai sifat yang berbeda dari sekumpulan partikel primer yang tidak teragregasi. Dalam tinjauan edafologi, sejumlah faktor yang berkaitan dengan struktur tanah jauh lebih penting dari sekedar bentuk agregat. Dalam hubungan tanah-tanaman, agihan ukuran pori, stabilitas agregat, kemampuan teragregasi kembali saat kering dan kekerasan (hardness) agregat jauh lebih penting dari ukuran dan bentuk agregat itu sendiri (Suci dan Bambang, 2002).
Istilah struktur tanah merujuk cara butiran-butiran tanah saling mengelompok secara bersama-sama diikat oleh koloida tanah. Tingkat perkembangan struktur tanah ditentukan berdasarkan atas kemantapan dan ketahanan bentuk struktur tanah tersebut terhadap tekanan. Tanah dikatakan tidak berstruktur bila butir-butir tanah tidak melekat satu sama lain atau saling melekat menjadi satu satuan yang padu dan disebut massive atau pejal. Tanah dengan struktur yang baik mempunyai tata udara yang baik, unsur-unsur hara lebih mudah tersedia dan mudah diolah (Hardjowigeno, 2003).
Struktur tanah sangat berpengaruh pada pertumbuhan akar dan bagian tanaman di atas tanah. Apabila tanah padat maka ruang pori tanah berkurang sehingga pertumbuhan akar terbatas yang akhirnya produksi menurun. Struktur tanah berpengaruh kuat terhadap kerapatan isi tanah (Winarso, 2005).
Bentuk dan stabilitas agregat serta persentase tanah yang teragregasi sangat berperan dalam menetukan tingkat kepekaan tanah terhadap erosi. Tanah yang peka terhadap erosi adalah tanah yang paling rendah persentase agregasinya. Tanah-tanah dengan tingkat agregasi yang tinggi, berstruktur kersai, atau granular tingkat penyerapan airnya lebih tinggi dari pada tanah yang tidak berstruktur atau susunan butir-butir primernya lebih rapat (Meyer dan Harmon, 1984).
Dalam menentukan erodibilitas tanah perlu memperhatikan keadaan struktur tanah dalam ukuran diameter.

















B . FAKTOR PANJANG LERENG DAN KEMIRINGAN LERENG
Informasi relief ini diperlihatkan dengan menggambarkan garis-garis kontur secara renggang.  Informasi relief secara absolut diperlihatkan dengan cara menuliskan nilai kontur yang merupakan ketinggian garis tersebut diatas suatu bidang acuan tertentu.  Bidang acuan yang umum digunakan adalah bidang permukaan laut rata-rata.  Untuk dapat menggambarkan bentuk relief permukaan bumi secara akurat, dapat ditempuh dengan menggambarkan garis kontur secara rapat sehingga relief yang kecil pun dapat digambarkan dengan baik.  Untuk itu, interval kontur harus dibuat sekecil mungkin (Purwohardjo, 1986).
Untuk mengetahui atau menentukan besar kemiringan data diukur dengan melalui beberapa metode atu alat antara lain dengan alat tipe A (ondol-ondol), abney level dan clinometers.  Selain itu, dapat digunakan alat yang sangat sederhana, yaitu selang yang diisi air.  Pada praktikum ini, digunakan alat tipe A untuk mengetahui garis kontur, dan selang air untuk mengukur kemiringan lereng.
Alat tipe A atau yang sering disebut dengan ondol-ondol merupakan suatu alat sederhana pengukuran kemiringan lereng.  Alat ini terbuat dari dua potong bambu atau kayu yang diikat longgar pada dua ujungnya sehingga mudah digerakkan.  Di bagian tengah alat dipasang suatu kayu penyangga melintang sehingga bentuknya persis seperti huruf A.  Alat ini dilengkapi dengan beberapa tambahan seperti benag gandulan atau tabung waterpas sehingga dapat digunakan untuk mengukur kemiringan suatu tempat.
Pengukuran dengan alat tipe-A lebih mudah digunakan tapi jauh lebih rumit dalam pengelolaan datanya, karena yang didapatkan dari pengukuran hanya berupa jarak dari satu titik ke titik lainnya.  Untuk mendapatkan nilai derajat dan persentasenya masih harus dimasukkan kedalam persamaan.  Dengan alat tipe A ini, dapat diketahui garis-garis dalam peta kontur.
Pada pengukuran kemiringan dengan selang air, diperoleh nilai H0 sebesar 22,5 cm, H1 sebesar 48 cm, dan X sebesar 270 cm.  Data tersebut digunakan untuk menghitung nilai Y dan kemiringan lereng.  Setelah dilakukan perhintungan, diperoleh nilai Y sebesar 25,5 cm dan kemiringan lereng sebesar 9,4 %.
Pengukuran dengan selang lebih dapat memberikan hasil kemiringan yang pasti dan mudah untuk dihitung.  Alatnya pun sangat sederhana, namun kurang efektif untuk mengukur kemiringan dalam skala lahan yang luas. Lereng mempengaruhi erosi dalam hubungannya dengan kecuraman dan panjang lereng.
 Lahan dengan kemiringan lereng yang curam (30-45%) memiliki pengaruh gaya berat (gravity) yang lebih besar dibandingkan lahan dengan kemiringan lereng agak curam (15-30%) dan landai (8-15%).  Hal ini disebabkan gaya berat semakin besar sejalan dengan semakin miringnya permukaan tanah dari bidang horizontal.  Gaya berat ini merupakan persyaratan mutlak terjadinya proses pengikisan (detachment), pengangkutan (transportation), dan pengendapan (sedimentation) (Wiradisastra, 1999).
Berdasarkan penghitungan, diketahui bahwa persen kemiringan lereng yang diukur adalah sebesar 9,4%.  Persentase ini menunjukkan bahwa lokasi tersebut masih tergolong landai, sehingga erosi yang terjadi termasuk masih rendah juga.

V.KESIMPULAN

Erodibilitas tanah adalah mudah tidaknya suatu tanah tererosi atau mudah tidaknya suatu tanah untuk dihancurkan oleh kekuatan jatuhnya butir-butir hujan, dan/atau oleh kekuatan aliran permukaan.
Universal Soil Loss Equation (USLE) memungkinkan memprediksi laju erosi rata-rata suatu lahan pada suatu kemiringan dengan pola hujan tertentu untuk setiap macam jenis tanah dan penerapan pengelolaan lahan dengan melihat beberapa faktor yaitu erosivitas hujan, erodibilitas tanah, kemiringan lereng, panjang lereng, penutup tanah, dan tindakan konservasi.
Dari metode USLE ini terhadap Erodibilitas tanah, kita dapat melihat dan menunjukkan bahaya erosi di suatu tempat pengamatan, tingkat bahaya erosi tertinggi, dan penurunan laju erosi dapat diusahakan dengan melaksanakan arahan konservasi yang tepat seperti penanaman enutup tanah rapat dan perbaikan konstruksi teras.

a.       Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa:
b.      Penyakit busuk pangkal batang kelapa sawit disebabkan oleh boninense sedangkan penyakit jamur akar putih pada karet disebabkan oleh Rigidoporus lignosus.
c.       Penyakit busuk pangkal batang kelapa sawit ditunjukkan dengan gejala membusuknya pangkal batang kelapa sawit kemudian tanaman menjadi tumbang. Penyakit jamur akar putih ditunjukkan dengan gejala adalanya miselium di perakaran karet dan lama-kelamaan akar menjadi busuk.
2.      Pengendalian kedua penyakit ini dilakukan dengan pengendalian terpadu.












DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011a. Jurnal Prediksi Erosi berbasis pixel. http://mbojo.wordpress.com 201001jurnal-     prediksi-erosi-sigberbasis-pixel.pdf. Tanggal akses 11 Mei 2017

  Anonim. 2011b. Tata Cara Penyusunan Rencana Teknik  Rehabilitasi Hutan Dan Lahan Daerah Aliran Sungai. http://www.dephut.go.id/ INFORMASI/RLPS/14_167_04.pdf. Tanggal akses 11 Mei 2017.

Arsyad, S., 2010. Konservasi Tanah dan Air. IPB Press, Institut Pertanian Bogor: Bogor.

Billah, Tassim, dkk. 2013. Kelapa Sawit. Informasi Ringkas Komoditas Perkebunan. Pusat
Data dan Sistem Informasi Pertanian. Jakarta Selatan.

Damanik, Sabarman. 2012. Pengembangan Karet (Havea  brasiliensis)  Berkelanjutan di Indonesia. Perspektif  Vol. 11 No. 1 /Juni 2012. Hlm  91 - 102 Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. Bogor.

Nasution, N. 2011. Tinjauan Pustaka: Jamur (Fungi). Universitas Sumatera Utara. Medan.
          Pulungan, M.H. 2013. Tinjauan Pustaka: Jamur Akar Putih (Rigidoporus microporus (Swartz:fr.) van Ov). Universitas Sumatera Utara. Medan.

Pusat Penelitian Kelapa Sawit. 2010. Penyakit Busuk Pangkal Batang Kelapa Sawit (Ganoderma boninense) dan Pengendaliannya. Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Medan.

Semangun, H. 2000. Penyakit-Penyakit Tanaman Perkebunan di Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 

Susanto, Agus. 2011. Penyakit Busuk Pangkal Batang: Ganoderma boninense Pat. Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Medan.

 
M =
5400
   a =
0.15288
b=
1
c=
5
100K=
59.49454512
k=
0.594945451
S1
0.069652
S2
0.431825
S3
0.431367
S4
0.432284
S5
0.441725
S6
0.449123

LS1
0.175497
LS2
0.599381
LS3
0.199608
LS4
0.196919
LS4
0.29529
LS5
0.309738

l(m)
m
L
s(%)
S
LS
100
0.5
2.127178
10
1.124054
1.624523
200
0.4
2.413543
4
0.343419
1.858857
300
0.3
2.186848
3
0.255673
2.215228
400
0.5
4.254356
5
0.443268
2.709146
500
0.5
4.756515
25
4.981846
6.932703
600
0.5
5.210501
40
11.56278
13.63563

  


...................................................................................................................................................................
selamat Membaca
salam Lestari !!!!!!! 
😉😉😉 





2 comments


EmoticonEmoticon