hy...guys yang ngambil jurusan kehutanan, ada ne aku shareing laporan praktikum , mohon komentar untuk berbaikan ke de pannya ya..... selamat membaca.....
...................................................................................................................................................................
...................................................................................................................................................................
FAKTOR
ERODIBILITAS TANAH DAN
FAKTOR
PANJANG LERENG & KEMIRINGAN LERENG
Di Susun Oleh :
Nama :
Albertus Telaumbanua
NIM : CCA 115 017
Mata Kuliah
: Konservasi Tanah Dan Air
Dosen Pengampu
: Bapak Ir.Setiarno,MP
Ibu
Ir.Rosdiana,MP
KEMENTERIAN
RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS
PALANGKA RAYA
FAKULTAS
PERTANIAN
JURUSAN
KEHUTANAN
2017
...................................................................................................................................................................
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur Penulis panjatkan
kehadiran Tuhan yang Maha Esa karna atas berkat dan Anugerahnya Penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktikum, yang menjadi
acuan pelaporan setelah praktikum di
laksanakan,
Pada kesempatan ini
penulis mengucapkan terimakasih kepada Bapak Ir.Setiarno., M.P dan Ibu
Ir.Rosdiana.,M.P Selaku Dosen Mata
Kuliah Konservasi Tanah dan Air yang
Laporan Praktikum ini dapat di
selesaikan. Juga kepada semua Pihak yang telah Membantu baik Moral baik pun
Materi
Penulis mengharapkan
semoga Laporan Praktikum ini dapat
memberikan manfaat sebagaimana mestinya dan dapat
di gunakan sebagai bahan referensi dalam Ilmu pengetahuan.
Palangka Raya, 29 April 2017
Penulis ,
DAFTAR
ISI
Halaman
KATA
PENGANTAR................................................................................................... i
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………… ii
I.
PENDAHULUAN
A. Latar
belakang................................................................................................................1
B. Tujun dan manfaat Penelitian........................................................................................ 1
II.
TINJAUAN PUSTAKA....................................................................................................2
III.
METODE PELAKSANAAN
IV.
PEMBAHASAN
a.
Erodibilitas Tanah........................................................................................................
3
b.
Kelerengan...................................................................................................................
8
V . PENUTUP ..........................................................................................................................
9
DAFTAR
PUSTAKA............................................................................................................. 10
.................................................................................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Sumberdaya alam utama yaitu tanah dan air pada dasarnya
merupakan sumberdaya alam yang dapat diperbaharui, namun mudah mengalami
kerusakan atau degradasi. Kerusakan tanah dapat terjadi oleh (1) kehilangan
unsur tanah dan bahan organik di daerah perakaran, (2) terkumpulnya garam di
daerah perakaran, (3) penjenuhan tanah oleh air, dan (4) erosi. Kerusakan
tanah tersebut menyebabkan berkurangnya kemampuan tanah untuk mendukung
pertumbuhan tanaman (Suripin, 2004).
Bahaya erosi yang telah menurunkan produktivitas tanah
merupakan masalah utama dari tahun ke tahun tetap harus dihadapi oleh
pemerintah. Bahaya erosi yang menimpa lahan-lahan pertanian serta penduduk
sering terjadi pada lahan-lahan yang memiliki kelerengan sekitar 15% keatas.
Bahaya ini disebabkan selain oleh perbuatan manusia yang mementingkan
pemuasan kebutuhan diri sendiri, juga dikarenakan pengelolaan tanah dan
pengairannya yang keliru (Asdak, 2002).
Untuk mengidentifikasi tingkat bahaya erosi, model yang
dapat digunakan adalah dengan menggunakan model USLE (Universal Soil Loss
Equation). Model USLE mempertimbangkan beberapa faktor dalam kajian erosi
seperti faktor erosivitas hujan, faktor erodibilitas tanah, faktor panjang dan
kemiringan lereng, faktor penutupan dan manajemen tanaman, dan faktor tindakan
konservasi tanah (Arsyad, 2010).
Model yang banyak berkembang saat ini adalah model yang
menggunakan fasilitas Sistem Informasi Geografis (SIG) yang merupakan suatu
sistem (berbasis komputer) yang digunakan untuk menyimpan dan memproses
informasi-informasi spasial. SIG dirancang untuk mengumpulkan, menyimpan, dan
menganalisis objek-objek dan fenomena-fenomena dimana lokasi geografis
merupakan karakteristik yang penting untuk dianalisis (Anonim, 2011a).
Kemiringan
lereng terjadi akibat perubahan permukaan bumi di berbagai tempat yang
disebabakan oleh daya-daya eksogen dan gaya-gaya endogen yang terjadi sehingga
mengakibatkan perbedaan letak ketinggian titik-titik diatas permukaan bumi. Kemiringan lereng mempengaruhi erosi
melalui runoff. Makin curam lereng makin besar laju dan
jumlah aliran permukaan dan semakin besar erosi yang terjadi. Selain itu partikel
tanah yang terpercik akibat tumbukan butir hujan makin banyak (Arsyad, 2000). Tentunya, derajat kemiringan lereng dan
panjang lereng merupakan sifat tofografi yang dapat mempengaruhi besarnya erosi
tanah. Semakin curam dan semakin panjang
.
1.2. Tujuan penyusunan Praktikum
Mahasiswa dapat mengetahui dan mampu menghitung
erodibilitas dengan persamaan Matematis dari Suatu Contoh data yang tersedia
Mahasiswa
dapat menegtahui dan mampu menyelesaikan faktor panjang Lereng (L),kecuraman
Lereng (S) dalam % dan (LS) dengan
persamaan matematis tertentu terhadap data.
II TINJAUAN PUSTAKA
Indeks kepekaan tanah terhadap erosi atau erodibilitas
tanah merupakan jumlah tanah yang hilang setiap tahunnya per satuan indeks daya
erosi curah hujan pada sebidang tanah tanpa tanaman, tanpa usaha pencegahan
erosi pada lereng 9 % dan panjang 22 m. Kepekaan tanah terhadap erosi
dipengaruhi oleh tekstur tanah (terutama kadar debu +pasir halus), bahan
organik, struktur dan permeabilitas tanah (Hardjowigeno, 2003).
Erodibilitas tanah (ketahanan tanah) dapat ditentukan
dengan aturan rumus menurut, perhitungan nilai K dapat dihitung dengan
persamaan Weischmeier, et all, (1971)
K = 1,292{ 2,1 M 1,14 (10 -4) (12-a) + 3,25 (b-2) + 2,5
(c-3)} /100
Dimana :
M = ukuran partikel (% pasir sangat halus+ % debu x
(100-% liat)
% pasir sangat halus = 30 % dari pasir
(Sinukaban dalam Sinulingga,1990)
a = kandungan bahan organik (% C x 1,724)
b = harkat struktur tanah
c = harkat permeabilitas tanah
Erodibilitas tanah sangat penting untuk diketahui agar
tindakan konservasi dan pengolahan tanah dapat dilaksanakan secara lebih tepat
dan terarah. Namun demikan, Veiche (2002) menyatakan bahwa konsep dari
erodibilitas tanah dan bagaimana cara menilainya merupakan suatu hal yang
bersifat kompleks atau tidak sederhana karena erodibilitas dipengaruhi oleh
banyak sekali sifat-sifat tanah. Berbagai usaha telah banyak dilakukan untuk
mendapatkan suatu indeks erodibilitas yang relatif lebih sederhana, baik
didasarkan pada sifat-sifat tanah yang ditetapkan di laboratorium maupun di
lapangan atau berdasarkan keragaan (response) terhadap hujan (Arsyad, 2000).
Kemiringan
lereng terjadi akibat perubahan permukaan bumi di berbagai tempat yang
disebabakan oleh daya-daya eksogen dan gaya-gaya endogen yang terjadi sehingga
mengakibatkan perbedaan letak ketinggian titik-titik diatas permukaan
bumi. Kemiringan lereng mempengaruhi
erosi melalui runoff. Makin curam lereng makin besar laju dan
jumlah aliran permukaan dan semakin besar erosi yang terjadi. Selain itu partikel
tanah yang terpercik akibat tumbukan butir hujan makin banyak (Arsyad, 2000).
Lereng mempengaruhi erosi dalam
hubungannya dengan kecuraman dan panjang lereng. Lahan dengan kemiringan lereng yang
curam (30-45%) memiliki pengaruh
gaya berat (gravity) yang lebih besar dibandingkan lahan dengan kemiringan
lereng agak curam (15-30%) dan landai (8-15%). Hal ini disebabkan gaya
berat semakin besar sejalan dengan semakin miringnya permukaan tanah dari
bidang horizontal. Gaya berat ini
merupakan persyaratan mutlak terjadinya proses
pengikisan (detachment), pengangkutan (transportation), dan
pengendapan (sedimentation)
(Wiradisastra, 1999).
III.METODE
PELAKSANAAN
3.1.
Alat dan Bahan
Untuk Erodibilitas
1.
Alat Tulis
2.
Kalkulator
3. Komputer/Laptop
Untuk Kemiringan Lereng
1.
Alat Tulis
2.
Kalkulator
3.
Komputer/Laptop
IV. PEMBAHASAN
A
. Faktor Erodibilitas Tanah
4.1. Pengertian Erodibilitas tanah
Kepekaan tanah terhadap erosi, disebut erodibilitas tanah
didefinisikan oleh Hudson (1978) sebagai mudah tidaknya suatu tanah tererosi.
Secara lebih spesifik Young et al. dalam Veiche (2002) mendefinisikan
erodibilitas tanah sebagai mudah tidaknya suatu tanah untuk dihancurkan oleh
kekuatan jatuhnya butir-butir hujan, dan/atau oleh kekuatan aliran permukaan.
Sementara Wischmeier dan mennering (1969) menyatakan bahwa erodibilitas alami (inherent)
tanah merupakan sifat kompleks yang tergantung ada laju infiltrasi tanah dan
kapasitas untuk bertahan terhadap penghancuran agregat (detachment)
serta pengangkutan oleh hujan dan aliran permukaan.
Di negara-negara tropis seperti Indonesia, kekuatan jatuh
air hujan dan kemampuan aliran permukaan menggerus permukaan tanah adalah
merupakan penghancuran utama agregat tanah. Agregat tanah yang sudah hancur
kemudian diangkut oleh aliran permukaan, mengikuti gaya gravitasi sampai ke suatu
tempat dimana pengendapan terjadi. Keseluruhan proses tersebut yaitu
penghancuran agregat, pengangkutan partikel-partikel tanah, dan pengendapan
partikel tanah disebut sebagai erosi tanah.
4.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Erodibilitas Tanah
Erodibilitas tanah dipengaruhi oleh banyak sifat-sifat
tanah, yakni sifat fisik, mekanik, hidrologi, kimia, reologi / litologi,
mineralogi dan biologi, termasuk karakteristik profil tanah seperti kedalaman
tanah dan sifat-sifat dari lapisan tanah (Veiche, 2002). Poesen (1983)
menyatakan bahwa erodibilitas bukan hanya ditentukan oleh sifat-sifat tanah,
namun ditentukan pula oleh faktor-faktor erosi lainnya yakni erosivitas,
topografi, vegetasi, fauna dan aktivitas manusia. Suatu tanah yang memiliki
erodibilitas rendah mungkin akan mengalami erosi yang berat jika tanah tersebut
terdapat pada lereng yang curam dan panjang, serta curah hujan dengan
intensitas yang tinggi. Sebaliknya tanah yang memiliki erodibilitas tinggi,
kemungkinan akan memperlihatkan gejala erosi ringan atau bahkan tidak sama
sekali bila terdapat pada pada lereng yang landai, dengan penutupan vegetasi
baik, dan curah hujan dengan intensitas rendah. Hudson (1978) juga menyatakan
bahwa selain fisik tanah, faktor pengelolaan / perlakuan terhadap tanah sangat
berpengaruh terhadap tingkat erodibilitas suatu tanah. Hal ini berhubungan
dengan adanya pengaruh dari faktor pengolalaan tanah terhadap sifat-sifat
tanah. Seperti yang ditunjukkan oleh hasil penelitian Rachman et al.
(2003), bahwa pengelolaan tanah dan tanaman yang mengakumulasi sisa-sisa
tanaman berpengaruh baik terhadap kualitas tanah, yaitu terjadinya perbaikan
stabilitas agregat tanah, ketahanan tanah (shear strength), dan
resistensi / daya tahan tanah terhadap daya hancur curah hujan (splash
detachment).
Meskipun erodibilitas tanah tidak hanya ditentukan oleh
sifat-sifat tanah, namun untuk membuat konsep erodibilitas tanah menjadi tidak
terlalu kompleks, maka beberapa peneliti menggambarkan erodibilitas tanah
sebagai pernyataan keseluruhan pengaruh sifat-sifat tanah dan bebas dari faktor
penyebab erosi lainnya (Arsyad, 2000).
Pada prinsipnya sifat-sifat tanah yang mempengaruhi
erodibilitas tanah adalah :
Sifat-sifat tanah yang mempengaruhi
laju infiltrasi, permeabilitas dan kapasitas tanah menahan air.
Sifat-sifat tanah yang mempengaruhi
ketahanan struktur tanah terhadap dispersi dan pengikisan oleh butir-butir air
hujan dan aliran permukaan.
Sifat-sifat tanah tersebut mencakup
tekstur, struktur, bahan organik, kedalaman tanah dan tingkat kesuburan tanah
(Morgan, 1979 ; Arsyad, 2000). Secara umum tanah dan kandungan debu tinggi,
liat rendah dan bahan organik rendah adalah yang paling mudah tererosi
(Wischmeier dan Mannering, 1969). Jenis mineral liat, kandungan besi dan
aluminium oksida, serta ikatan elektro-kimia di dalam tanah juga merupakan
sifat tanah yang berpengaruh terhadap erodibilitas tanah (Wischmeier dan
Mannering, 1969 ; Liebenow et al., 1990).
a) Tekstur
Tekstur tanah menunjukkan kasar
halusnya tanah, ditentukan berdasarkan perbandingan butir-butir (fraksi) pasir
(sand), debu (silt) dan liat (caly). Fraksi pasir berukuran 2 mm – 50 μ lebih
kasar dibanding debu ( 50 μ – 2 μ) dan liat ( lebih kecil dari 2 μ). Karena
ukurannya yang kasar, maka tanah-tanah yang didominasi oleh fraksi pasir
seperti tanah-tanah yang tergolong dalam sub-ordo Psamment, akan melalukan air
lebih cepat ( kapasitas infiltrasi dan permeabilitas tinggi) dibandingkan
dengan tanah-tanah yang didominasi oleh fraksi debu dan liat. Kapasitas
infiltrasi dan permeabilitas yang tinggi, serta ukuran butir yang relatif lebih
besar menyebabkan tanah-tanah yang didominasi oleh pasir umumnya mempunyai
tingkat erodibilitas yang rendah. Tanah dengan kandungan pasir yang halus (0,01
mm – 50 μ ) tinggi juga mempunyai kapasitas infiltrasi cukup tinggi, akan
tetapi jika terjadi aliran permukaan, maka butir-butir halusnya akan mudah
terangkut.
Debu merupakan fraksi tanah yang paling
mudah tererosi, karena selai mempunyai ukuran yang relatif halus, fraksi ini
juga tidak mempunyai kemampuan untuk membentuk ikatan ( tanpa adanya bantuan
bahan perekat/pengikat), karena tidak mempunyai muatan, maka fraksi ini dapat
membentuk ikatan. Meyer dan Harmon (1984) menyatakan bahwa tanah-tanah
bertekstur halus (didominasi liat) umumnya bersifat kohesif dan sulit untuk
dihancurkan. Walaupun demikian, bila kekuatan curah hujan atau aliran permukaan
mampu menghancurkan ikatan antar partikelnya, maka akan timbul bahan sedimen
tersuspensi yang mudah untuk terangkut atau terbawa aliran permukaan.
Fraksi halus ( dalam bentuk sedimen
tersuspensi) juga dapat menyumbat poro-pori tanah dilapisan permukaan akan
meningkat. Akan tetapi, jika tanah demikian mempunyai agregat yang mantap,
yakni tidak mudah terdispensi, maka penyerapan air ke dalam tanah masih cukup
besar, sehingga aliran permukaan dan erosi menjadi relatif tidak berbahaya
(Arsyad, 2000).
Berikut ini nilai ukuran butir-butir tanah (M) untuk suatu
kelas tekstur tanah.
Tabel nilai ukuran butir-butir tanah (M) untuk suatu
kelas tekstur tanah
Kelas tekstur tanah
|
Nilai M
|
Kelas tekstur tanah
|
Nilai M
|
Lempung berat
|
210
|
Geluh lempung pasiran
|
2160
|
Lempung sedang
|
750
|
Debu
|
8245
|
Lempung ringan
|
1685
|
Geluh debuan
|
6330
|
Lempung debuan
|
2830
|
Geluh
|
4390
|
Lempung pasiran
|
3245
|
Geluh pasiran
|
3245
|
Geluh lempung debuan
|
3770
|
Pasir geluhan
|
4005
|
Geluh lempung
|
2830
|
Pasir
|
3035
|
b) Bahan organik
Bahan organik sangat berperan pada
proses pembentukan dan pengikatan serta menstabilkan agregat tanah. Pengikatan
dan penstabilan agregat tanah oleh bahan organik dapat dilakukan melalui
pengikatan secara fisik butir-butir primer tanah oleh mycelia jamur, actionmycetes,
dan/atau akar-akar halus tanaman; dan pengikatan secara kimia, yaitu dengan
menggunakan gugus-gugus aktif dari bahan panjang, atau gugusan positif ( gugus
amine, amide, atau amino) pada senyawa organik berbentuk rantai (polymer).
Bahan organik yang masih dalam bentuk
serasah, seperti daun, ranting, dan sebagainya yang belum hancur yang menutupi
permukaan tanah, merupakan pelindung tanah terhadap kekuatan perusak
butir-butir hujan yang jatuh. Bahan organik tersebut juga menghambat aliran permukaan,
sehingga kecepatan alirannya lebih lambat dan relatif tidak merusak. Bahan
organik yang sudah mengalami pelapukan mempunyai kemampuan menyerap dan menahan
air yang tinggi, sampai dua-tiga kali berat keringnya. Akan tetapi, kemampuan
menyerap air ini hanya merupakan faktor kecil dalam mempengaruhi kecepatan
aliran permukaan. Pengaruh utama bahan organik adalah memperlambat aliran
permukaan, meningkatkan infiltrasi, dan memantapkan agregat tanah (Arsyad,
2000).
Bahan organik di dalam tanah jumlahnya
tidak sama antara jenis tanah yang satu dengan yang lainnya seperti Histosol
yang mengandung bahan organik > 65 %. Perbedaan kandungan bahan organik ini
tergantung pada jenis tanah dan cara pengelolaan tanah. Menurut Puslitanak
(2005) Bogor ada beberapa kriteria dari bahan organik sebagaimana disajikan
pada Tabel 5.
Tabel . Kriteria Bahan Organik.
No
|
Kriteria Bahan Organik
|
Nilai
|
1.
|
Sangat tinggi
|
> 6.00
|
2.
|
Tinggi
|
4.30- 6.00
|
3.
|
Sedang
|
2.10- 4.20
|
4.
|
Rendah
|
1.00- 2.00
|
5.
|
Sangat rendah
|
< 1.00
|
Sumber : Puslitanak (2005)
c) Struktur/Agregasi tanah
Bentuk dan stabilitas agregat, serta
persentase tanah yang teragregasi sangat berperan dalam menentukan tingkat
kepekaan tanah terhadap erosi. Hasil penelitian Meyer dan Harmon (pooly aggregated).
Tanah-tanah dengan tingkat agregasi tinggi, berstruktur kersai atau granular,
serang, tingkat penyerapan airnya lebih tinggi dari pada tanah yang tidak
berstruktur atau susunan butir-butir primernya lebih rapat.
Selain dipengaruhi oleh tekstur
dan kandungan bahan organik, pembentukan agregat tanah dipengaruhi jga oleh
jumlah dan jenis kation yang diadsorbsi liat. Pengaruh kandungan besi dan
aluminium oksida terhadap tingkat erodiilitas tanah, juga erat hubungannya
dengan pembentukan dan penstabilan agregat tanah (Liebenow et al.,
1990). Besi dan aluminium oksida membentuk dan meningkatkan kestabilan agregat
tanah, melalui peningkatan gugus-gugus negatif dari liat oleh gugus positif
dari oksida-oksida tersebut.
Stabilitas agregat tanah sangat
berpengaruh terhadap kematapan pori tanah. Tanah-tanah yang mudah terdispensi
atau agregatnya tidak stabil menyebabkan pori-porinya tanah juga mudah hancur
atau tertutup/tersumbat oleh liat atau debu (erosi internal), sehingga laju dan
kapasitas infiltrasi tanah mengalami penurunan.
Struktur tanah merupakan sifat fisik
tanah yang menggambarkan susunan keruangan partikel-partikel tanah yang
bergabung dengan satu dengan yang lain membentuk agregat. Dalam tinjauan
morfologi, struktur tanah diartikan sebagai susunan partikel-partikel primer
menjadi satu kelompok (cluster) yang disebut agregat yang dapat
dipisah-pisahkan kembali serta mempunyai sifat yang berbeda dari sekumpulan
partikel primer yang tidak teragregasi. Dalam tinjauan edafologi, sejumlah
faktor yang berkaitan dengan struktur tanah jauh lebih penting dari sekedar
bentuk agregat. Dalam hubungan tanah-tanaman, agihan ukuran pori, stabilitas
agregat, kemampuan teragregasi kembali saat kering dan kekerasan (hardness)
agregat jauh lebih penting dari ukuran dan bentuk agregat itu sendiri (Suci dan
Bambang, 2002).
Istilah struktur tanah merujuk cara
butiran-butiran tanah saling mengelompok secara bersama-sama diikat oleh
koloida tanah. Tingkat perkembangan struktur tanah ditentukan berdasarkan atas
kemantapan dan ketahanan bentuk struktur tanah tersebut terhadap tekanan. Tanah
dikatakan tidak berstruktur bila butir-butir tanah tidak melekat satu sama lain
atau saling melekat menjadi satu satuan yang padu dan disebut massive atau
pejal. Tanah dengan struktur yang baik mempunyai tata udara yang baik,
unsur-unsur hara lebih mudah tersedia dan mudah diolah (Hardjowigeno, 2003).
Struktur tanah sangat berpengaruh pada
pertumbuhan akar dan bagian tanaman di atas tanah. Apabila tanah padat maka
ruang pori tanah berkurang sehingga pertumbuhan akar terbatas yang akhirnya
produksi menurun. Struktur tanah berpengaruh kuat terhadap kerapatan isi tanah
(Winarso, 2005).
Bentuk dan stabilitas agregat serta
persentase tanah yang teragregasi sangat berperan dalam menetukan tingkat
kepekaan tanah terhadap erosi. Tanah yang peka terhadap erosi adalah tanah yang
paling rendah persentase agregasinya. Tanah-tanah dengan tingkat agregasi yang
tinggi, berstruktur kersai, atau granular tingkat penyerapan airnya lebih
tinggi dari pada tanah yang tidak berstruktur atau susunan butir-butir
primernya lebih rapat (Meyer dan Harmon, 1984).
Dalam menentukan erodibilitas tanah perlu memperhatikan
keadaan struktur tanah dalam ukuran diameter.
B . FAKTOR PANJANG
LERENG DAN KEMIRINGAN LERENG
Informasi relief ini diperlihatkan dengan menggambarkan garis-garis kontur
secara renggang. Informasi relief secara
absolut diperlihatkan dengan cara menuliskan nilai kontur yang merupakan
ketinggian garis tersebut diatas suatu bidang acuan tertentu. Bidang acuan yang umum digunakan adalah
bidang permukaan laut rata-rata. Untuk
dapat menggambarkan bentuk relief permukaan bumi secara akurat, dapat ditempuh
dengan menggambarkan garis kontur secara rapat sehingga relief yang kecil pun
dapat digambarkan dengan baik. Untuk
itu, interval kontur harus dibuat sekecil mungkin (Purwohardjo, 1986).
Untuk mengetahui
atau menentukan besar kemiringan data diukur dengan melalui beberapa metode atu
alat antara lain dengan alat tipe A (ondol-ondol), abney level dan clinometers. Selain itu, dapat
digunakan alat yang sangat sederhana, yaitu selang yang diisi air. Pada praktikum ini, digunakan alat tipe A
untuk mengetahui garis kontur, dan selang air untuk mengukur kemiringan lereng.
Alat tipe A atau
yang sering
disebut dengan ondol-ondol merupakan suatu alat sederhana pengukuran kemiringan
lereng. Alat ini terbuat
dari dua potong bambu atau kayu yang diikat longgar pada dua ujungnya sehingga
mudah digerakkan. Di bagian tengah
alat dipasang suatu kayu penyangga melintang sehingga bentuknya persis seperti
huruf A. Alat ini
dilengkapi dengan beberapa tambahan seperti benag gandulan atau tabung waterpas sehingga dapat digunakan untuk mengukur
kemiringan suatu tempat.
Pengukuran dengan alat tipe-A lebih mudah digunakan tapi jauh lebih rumit
dalam pengelolaan datanya, karena yang didapatkan dari pengukuran hanya berupa
jarak dari satu titik ke titik lainnya. Untuk
mendapatkan nilai derajat dan persentasenya masih harus dimasukkan kedalam
persamaan. Dengan alat tipe
A ini, dapat diketahui garis-garis dalam peta kontur.
Pada pengukuran kemiringan dengan selang air, diperoleh nilai H0 sebesar
22,5 cm, H1 sebesar 48 cm, dan X sebesar 270 cm. Data tersebut digunakan untuk menghitung
nilai Y dan kemiringan lereng. Setelah
dilakukan perhintungan, diperoleh nilai Y sebesar 25,5 cm dan kemiringan lereng
sebesar 9,4 %.
Pengukuran dengan selang lebih dapat memberikan hasil kemiringan yang pasti
dan mudah untuk dihitung. Alatnya pun
sangat sederhana, namun kurang efektif untuk mengukur kemiringan dalam skala
lahan yang luas. Lereng
mempengaruhi erosi dalam hubungannya dengan kecuraman dan panjang
lereng.
Lahan dengan kemiringan lereng yang
curam (30-45%) memiliki pengaruh
gaya berat (gravity) yang lebih besar dibandingkan lahan dengan kemiringan
lereng agak curam (15-30%) dan landai (8-15%). Hal ini disebabkan gaya
berat semakin besar sejalan dengan semakin miringnya permukaan tanah dari
bidang horizontal. Gaya berat ini
merupakan persyaratan mutlak terjadinya proses
pengikisan (detachment), pengangkutan (transportation), dan
pengendapan (sedimentation)
(Wiradisastra, 1999).
Berdasarkan penghitungan, diketahui bahwa persen kemiringan lereng yang
diukur adalah sebesar 9,4%. Persentase
ini menunjukkan bahwa lokasi tersebut masih tergolong landai, sehingga erosi
yang terjadi termasuk masih rendah juga.
V.KESIMPULAN
Erodibilitas tanah adalah mudah tidaknya suatu tanah
tererosi atau mudah tidaknya suatu tanah untuk dihancurkan oleh kekuatan
jatuhnya butir-butir hujan, dan/atau oleh kekuatan aliran permukaan.
Universal Soil Loss Equation (USLE) memungkinkan
memprediksi laju erosi rata-rata suatu lahan pada suatu kemiringan dengan pola
hujan tertentu untuk setiap macam jenis tanah dan penerapan pengelolaan lahan
dengan melihat beberapa faktor yaitu erosivitas hujan, erodibilitas tanah,
kemiringan lereng, panjang lereng, penutup tanah, dan tindakan konservasi.
Dari metode USLE ini terhadap Erodibilitas tanah, kita
dapat melihat dan menunjukkan bahaya erosi di suatu tempat pengamatan, tingkat
bahaya erosi tertinggi, dan penurunan laju erosi dapat diusahakan dengan
melaksanakan arahan konservasi yang tepat seperti penanaman enutup tanah rapat
dan perbaikan konstruksi teras.
a. Berdasarkan
uraian pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa:
b. Penyakit
busuk pangkal batang kelapa sawit disebabkan oleh boninense sedangkan penyakit jamur akar putih pada karet disebabkan
oleh Rigidoporus lignosus.
c. Penyakit
busuk pangkal batang kelapa sawit ditunjukkan dengan gejala membusuknya pangkal
batang kelapa sawit kemudian tanaman menjadi tumbang. Penyakit jamur akar putih
ditunjukkan dengan gejala adalanya miselium di perakaran karet dan
lama-kelamaan akar menjadi busuk.
2.
Pengendalian kedua
penyakit ini dilakukan dengan pengendalian terpadu.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011a.
Jurnal Prediksi Erosi berbasis pixel. http://mbojo.wordpress.com
201001jurnal- prediksi-erosi-sigberbasis-pixel.pdf.
Tanggal akses 11 Mei 2017
Anonim. 2011b.
Tata Cara Penyusunan Rencana Teknik Rehabilitasi Hutan Dan Lahan Daerah
Aliran Sungai. http://www.dephut.go.id/
INFORMASI/RLPS/14_167_04.pdf. Tanggal akses 11 Mei 2017.
Arsyad, S.,
2010. Konservasi Tanah dan Air. IPB Press, Institut Pertanian Bogor:
Bogor.
Billah,
Tassim, dkk. 2013. Kelapa Sawit.
Informasi Ringkas Komoditas Perkebunan. Pusat
Data
dan Sistem Informasi Pertanian. Jakarta Selatan.
Damanik,
Sabarman. 2012. Pengembangan Karet
(Havea brasiliensis) Berkelanjutan di Indonesia.
Perspektif Vol. 11 No. 1 /Juni 2012.
Hlm 91 - 102 Pusat Penelitian dan
Pengembangan Perkebunan. Bogor.
Nasution,
N. 2011. Tinjauan Pustaka: Jamur (Fungi).
Universitas Sumatera Utara. Medan.
Pulungan, M.H. 2013. Tinjauan Pustaka:
Jamur Akar Putih (Rigidoporus microporus (Swartz:fr.) van Ov). Universitas
Sumatera Utara. Medan.
Pusat
Penelitian Kelapa Sawit. 2010. Penyakit
Busuk Pangkal Batang Kelapa Sawit (Ganoderma boninense) dan Pengendaliannya.
Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Medan.
Semangun,
H. 2000. Penyakit-Penyakit Tanaman
Perkebunan di Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Susanto,
Agus. 2011. Penyakit Busuk Pangkal
Batang: Ganoderma boninense Pat. Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Medan.
M =
|
5400
|
a =
|
0.15288
|
b=
|
1
|
c=
|
5
|
100K=
|
59.49454512
|
k=
|
0.594945451
|
S1
|
0.069652
|
S2
|
0.431825
|
S3
|
0.431367
|
S4
|
0.432284
|
S5
|
0.441725
|
S6
|
0.449123
|
LS1
|
0.175497
|
LS2
|
0.599381
|
LS3
|
0.199608
|
LS4
|
0.196919
|
LS4
|
0.29529
|
LS5
|
0.309738
|
l(m)
|
m
|
L
|
s(%)
|
S
|
LS
|
100
|
0.5
|
2.127178
|
10
|
1.124054
|
1.624523
|
200
|
0.4
|
2.413543
|
4
|
0.343419
|
1.858857
|
300
|
0.3
|
2.186848
|
3
|
0.255673
|
2.215228
|
400
|
0.5
|
4.254356
|
5
|
0.443268
|
2.709146
|
500
|
0.5
|
4.756515
|
25
|
4.981846
|
6.932703
|
600
|
0.5
|
5.210501
|
40
|
11.56278
|
13.63563
|
...................................................................................................................................................................
selamat Membaca
salam Lestari !!!!!!!
😉😉😉




Waow mantp kk.. kk bagaimn cra aktifkn iklannya?
ReplyDeleteitu otomatis dari blog de
ReplyDelete