Sunday, March 11, 2018

Pemuda dan Maritim Indonesia


Kontribusi Nyata Pemuda dalam Menghadapi Demografi
Dan
Poros Maritim Dunia

Indonesia Merupakan Negara Maritim terbesar di dunia dan menghasilkan beberapa penghasilan dari laut itu sendiri Dalam beberapa waktu kebelakang ini, dunia maritim sedang menjadi isu hangat yang dibicarakan tidak hanya dalam lingkup kecil masyarakat pesisir, namun lebih luas lagi hampir bisa kita jumpai di media-media besar. Wacana ini mulai berhembus bertepatan dengan komitmen presiden terpilih Pak Jokowi atas keseriusannya untuk menggarap visi kemaritiman dalam masa kepengurusannya. Tak tanggung-tanggung, menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia adalah sebuah cita-cita besar yang beliau canangkan.

Kita harus pelajari dulu bagaimana sejarah Maritim Di Indonesia
Memilik dari sejarah, sebenarnya Indonesia tidak asing dengan wacana kemaritiman. Nusantara pernah mencapai masa kejayaannya ketika dikuasai oleh kerajaan-kerajaan besar yang mengedepankan visi kemaritiman sebagai jalan hidup kerajaannya. Sriwijaya yang berkembang di wilayah barat Nusantara hingga melebar mendekati wilayah Vietnam, sempat menjadi fenomena dalam percaturan pelayaran dunia. Penguasaan Selat Malaka sebagai satu jalur penting pelayaran dunia menjadi satu bukti dengan penguasaan alur pelayaran dunia, Nusantara bisa menjadi satu kerajaan yang diperhitungkan. Lain lagi dengan Majapahit yang mahsyur dengan Sumpah Palapa dari Mahapatih Gajah Madanya. Kekuatan armada maritim dengan kapal-kapal yang luar biasa kuat juga senjata cetbang yang mahsyur akan kekuatannya, membuat Majapahit sedikit lagi bisa menguasai seluruh wilayah Nusantara. Visi kemaritiman mulai dari penguasaan alur pelayaran, kekuatan sumber daya maritim, hingga kekuatan alutsista kemaritiman adalah kunci dua kerajaan Nusantara tersebut dapat berkuasa di tanah Zambrud Khatulistiwa ini.

Poros Maritim (?)
Dikutip dari presiden.go.id, bahwa Poros maritim merupakan sebuah gagasan strategis yang diwujudkan untuk menjamin konektifitas antar pulau, pengembangan industri perkapalan dan perikanan, perbaikan transportasi laut serta fokus pada keamanan maritim. Poros Maritim Dunia yang dicanangkan ini akan menjadi sebuah gagasan baru yang sejatinya mengembalikan Indonesia kepada jatidirinya sendiri, Bangsa Maritim.
Luas wilayah lautan Indonesia seluas 3.544.743,9 km2 (UNCLOS 1982) atau sekitar 64.85% dari total seluruh wilayah Indonesia. Indonesia pun sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan panjang garis pantai 1.904.569 km2 atau terpanjang ke-2 di dunia, menjadi bukti betapa Indonesia adalah negara yang dikaruniai sumber daya maritim yang berlimpah. Sekitar 12,5 juta ton pertahun jumlah potensi perikanan di wilayah Indonesia, belum lagi sumber daya laut lain yang bisa dimanfaatkan juga menjadi satu bukti bahwa Indonesia adalah sebuah negara maritim. Maka bagaimana kita bisa bertanggung jawab atas dipunggunginya laut selama ini.
Lima pilar Poros Maritim Dunia untuk mewujudkan gagasan ini, yaitu,
·         Budaya maritim
·         Sumber daya laut-industri pelayaran
·         Infrastruktur dan konektivitas antar pulau
·         Diplomasi maritim
·         Pertahanan maritim-alutsista
adalah merupakan syarat-syarat yang diperlukan untuk menjadikan Indonesia menjadi sebenar-benarnya Poros Maritim Dunia
Penggagasan Tol Laut (Sea Highway) yang dimaksudkan sebagai solusi ketimpangan dunia barat dan timur Indonesia dengan merekayasa jalur laut agar selalu terkoneksi juga merupakan gagasan visioner di wilayah kemaritiman. Hal ini menjadi satu wacana baru tentang kejayaan Indonesai dimulai dari dunia kemaritiman.
Pembangunan Indonesia tidak seharusnya hanya bertopang pada dunia agrarian, seperti beberapa dekade ke belakang. Apalagi pada faktanya dunia agrarian kita pun tidak sedang dalam kondisi baik. Gagasan besar mengenai dunia maritim Indonesia harus selalu dirawat, agar cita-cita kejayaan Indonesia bisa benar-benar terwujud.



Peran Pemuda
Dengan fakta-fakta serta peluang-peluang di atas menjadikan wacana pembangunan Indonesia lewat dunia maritim adalah sebuah keniscayaan. Belum lagi wabah bonus demografi di Indonesia pada sekitar tahun 2020-2030 menjadi sebuah momentum yang baik untuk bisa kembali membawa kejayaan kemaritiman Indonesia. Dengan usia produktif yang lebih banyak, seharusnya tidak menjadi bumerang yang malah menyerang balik Indonesia, tetapi harus bisa dimanfaatkan menjadi peluang terbaik Indonesia. Pemuda Indonesia harus mulai menyadari hal ini dan bisa mengalihkan pandangannya kepada dunia kemaritiman.
Pada akhirnya pemuda dengan berbagai gagasannya menjadi satu tonggak baru perwujudan cita-cita menjadikan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat, hingga arwah para pahlawan kelak dapat tersenyum dengan bangga melihat generasi penerusnya bisa mewujudkan cita-cita mereka.




EmoticonEmoticon