1.Pengertian Komunikasi Politik
Komunikasi politik adalah fungsi
penting dalam sistem politik. Pada setiap proses politik, komunikasi politik menempati posisi yang
strategis. Bahkan, komunikasi politik dinyatakan sebagai “urat nadi” proses
politik. Bagaimana tidak, aneka struktur politik seperti parlemen,
kepresidenan, partai politik, lembaga swadaya masyarakat, kelompok kepentingan,
dan warganegara biasa memperoleh informasi politik melalui komunikasi politik
ini. Setiap struktur jadi tahu apa yang telah dan akan dilakukan berdasarkan
informasi ini.Komunikasi politik banyak menggunakan konsep-konsep dari ilmu
komunikasi oleh sebab, ilmu komunikasi memang berkembang terlebih dahulu
ketimbang komunikasi politik. Konsep-konsep seperti komunikator, pesan, media,
komunikan, dan feedback sesungguhnya juga digunakan dalam komunikasi politik.
Titik perbedaan utama adalah, komunikasi politik mengkhususkan diri dalam hal
penyampaian informasi politik. Sebab itu, perlu terlebih dahulu memberikan
definisi komunikasi politik yang digunakan di dalam tulisan ini.
2. Komunikasi menurut para ahli
Pengertian
Komunikasi Politik menurut seorang pakar politik Maswadi Rauf,
Komunikasi Politik adalah sebagai objek kajian ilmu politik, karena
pesan-pesan yang diungkapkan dalam proses komunikasi bercirikan politik yaitu
berkaitan dengan kekuasaan politik negara, pemerintahan dan juga aktivitas
komunikator dalam kedudukan sebagai pelaku kegiatan politik. Maswadi Rauf
melihat komunikasi politik dari dua dimensi, yaitu komunikasi politik sebagai
kegiatan pollitik dan sebagai kegiatan ilmiah.
Komunikasi sebagai
kegiatan politik merupakan penyampaian pesan-pesan yang bercirikan politik oleh
aktor-aktor politik kepada pihak lain. Kegiatan tersebut bersifat empirik
karena dilakukan secara nyata dalam kehidupan sosial, sedangkan komunikasi
politik sebagai kegiatan ilmiah maka komunikasi politik adalah salah satu
kegiatan politik dalam sistem politik.
Menurut Rusadi
Kantaprawira seorang pakar hukum, Pengertian Komunikasi
Politik adalah penghubungan pikiran politik yang hidup di dalam
masyarakat, baik itu pikiran intern golongan, asosiasi, instansi ataupun sektor
kehidupan politik pemerintah. Rusadi melihat komunikasi politik dari sisi
kegunaannya.
Astrid S. Soesanto mengemukakan
pengertian komunikasi politik yang hampir diwarnai kajian ilmu
hukum. Pengertian Komunikasi Politik ialah komunikasi yang diarahkan
pada pencapaian suatu pengaruh sedemikian rupa, sehingga pada masalah yang
dibahas oleh jenis kegiatan komunikasi ini dapat mengikat semua warganya
melalui suatu sanksi yang ditentukan bersama oleh lembaga-lembaga politik.
Dari kata "Mengikat"
dan "sanksi" memberi isyarat bahwa disiplin ilmu hukum telah
memperkaya formulasi pengertian komunikasi politik yang diungkapkan oleh
Astrid, karena kedua kata tersebut adalah terminologi yang biasa digunakan
dalam kajian ilmu hukum.
R.M.
Perloff mendefinisikan komunikasi politik sebagai proses dengan mana
pemimpin, media, dan warganegara suatu bangsa bertukar dan menyerap makna pesan
yang berhubungan dengan kebijakan publik. Dalam definisi ini, Perloff menjadi
media sebagai pihak yang ikut melakukan komunikasi politik.
Definisi komunikasi
politik adalah seluruh proses transmisi, pertukaran, dan pencarian informasi
(termasuk fakta, opini, keyakinan, dan lainnya) yang dilakukan oleh para
partisipan dalam kerangka kegiatan-kegiatan politik yang terlembaga.Definisi
ini menghendaki proses komunikasi politik yang dilakukan secara terlembaga.
Sebab itu, komunikasi yang dilakukan di rumah antarteman atau antarsaudara
tidak termasuk ke dalam fokus kajian. Meskipun demikian, konsep-konsep yang
dikaji di dalam komunikasi politik sangat banyak, yang oleh sebab keterbatasan
tempat, maka hanya akan diambil beberapa saja.
3.Bentuk-bentuk Komunikasi
Politik
Bentuk-bentuk
Komunikasi Yang Mendominasi Komunikasi Politik
1. Kampanye
Pada dasarnya
pidato, kampanye, dan propaganda merupakan bentuk-bentuk komunikasi
antarmanusia (human communications) yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan
tertentu dengan menggunakan teknik dan metode tertentu pula.Istilah kampanye
berasal dari Bahasa Inggris campaign yang juga berasal dari Bahasa Latin campus
yang berarti “extensive track of country, series of operation in a particular
theactric war, an organized series of operation, meeting canvassing”. Hal ini
membawa permasalahan ke masalah berkomunikasi populer/popularisasi tentang
suatu masalah.
Menurut Rice dan
Paisley yang dikutip oleh F. Rachmadi dalam dalam buku Public Relatios Dalam
Teori Dan Praktek (Aplikasi dalam Badan Usaha Swasta dan Lembaga Pemerintah)
bahwa kampanye adalah keinginan seseorang untuk mempengaruhi kepercayaan dan
tingkah laku orang lain dengan daya tarik yang komunikatif. Tujuan kampanye
adalah menciptakan ‘perubahan’ atau ‘perbaikan’ dalam masyarakat... (1993 :
134).
Menurut Astrid S.
Soesanto dalam buku Pendapat Umum menyatakan bahwa prinsip dasar dalam kampanye
adalah bahwa kampanye mengikuti proses komunikasi dan unsur-unsurnya, yaitu :
Proses
Rasionalisasi/Emosionalitas. Proses rasional yaitu apa yang secara harfiah
disampaikan dalam suatu kegiatan komunikasi. Proses emosional yang “sekedar”
tersirat dalam penyampaian informasi. Proses rasionalitas biasanya terjadi
waktu orang membahas hal-hal yang tidak terlalu melibatkan kepentingan
pribadinya sehingga konsensus mudah tercapai. Unsur rasionalitas adalah proses
pengoperan lambang-lambang secara harfiah dan proses komunikasi ialah proses
emosionalitas yang mengiringi informasi rasional tadi. Tingkat emosionalitas
dapat dideteksi melalui : pilihan kata dan tanda penyampaian. Hal lain yang
berkaitan dengan proses rasionalitas adalah anteseden yaitu sumber pengalaman
yang mendahului.
Unsur emosionalitas dan
rasionalitas juga makin meningkat atau berkurang bila dikaitkan dengan :
• Kemampuan ekonomi/pendidikan
• Relevansi dengan hidup
• Demi waktu/rencana memanfaatkan
waktu
4. Contoh Komunikasi Politik
Aulia Pohan jadi
tersangka Korupsi oleh KPK. Heboh, Kejutan dan berita cantik. Komunikasi
Politik Ala Presiden Sby menjadi judul artikel hari ini, semoga anda tidak
kecewa, sebab sekali lagi pakde lagi bertapa mencari wangsit (weleh) untuk
kebaikan diri saya, kelurga saya, blogger Indonesia, dan semua orang di
Indonesia agar tersenyum dan bangga menjadi warga Indonesia serta mensyukuri nikmat
yang diberikan Tuhan secara melimpah ini. Akhir dari proses bahagia lahir dan
batin adalah pencapaian kesempurnaan hidup yaitu mengenal siapa yang
menciptakan hidup, baru kemudian kita menghadapNya yang ditandai dengan
keluarnya roh dari tubuh yang rapuh ini. (Loh kok jadi ngelantur)
Komunikasi Politik Ala Presiden
Sby
Ini adalah contoh
jika anda kebingungan membuat artikel maka ambilah dari sumbernya dalam kasus
saya ini dari detik.com edisi 30 Oktober 2008. Anda ganti judulnya dan
modifikasi isinya biar bisa bersaing dari segi SEO tapi masih menjaga asal usul
sumber informasi. Cara ini kurang baik tapi lebih tidak baik dari pada anda
copy paste apa adanya plus tidak menyebutkan sumbernya. Plus jangan lupa
judulnya harus hot dan memiliki lifetime yang panjang.
Jakarta – Statement bapak
SBY yang mempersilakan Komite pemberantasan Korupsi KPK untuk mengusut Besan
Sby Aulia Pohan dalam kasus heboh tahun ini yaitu aliran dana BI mendapatkan
pujian yang tinggi dari sudut pandang komunikasi massa. Dengan berubahnya
status Aulia Pohan menjadi tersangka, kejutan pun kembali terjadi, dan ini
sulit kita jumpai di masa-masa presiden sebelumnya.
“Bisa dikatakan, ini komunikasi
politik yang luar biasa dari Predisen Yudhoyono. Ini kejutan untuk sebuah
komunikasi politik,” tegas pengamat komunikasi politik UI Effendy Gazali ketika
dihubungidetikcom, Kamis 30 Oktober 2008 malam.
Effendi Gazali mengaku sempat
terkejut dengan pernyataan Presiden SBY yang memberi lampu hijau kepada tim
penyidik KPK untuk mengembangkan kasus ini. Sebelumnya, pengamat komunikasi
memprediksi Presiden SBY akan menggunakan kesempatan ini saat detik-detik akhir
masa kampanye. Nyatanya, tidak berapa lama setelah mantan Gubernur BI
Burhanuddin Abdullah dijatuhi hukuman pidana penjara selama 5 tahun, Aulia pun
langsung dinyatakan sebagai tersangka, suatu keputusan berani, meskipun banyak
yang melihat sebelah mata.
“Saya pikir sekitar bulan Maret
2009,” jelasnya.
Menurut Effendi pengamat politik
UI ini, tujuan dan target komunikasi politik sudah tercapai dalam pernyataan
Presiden SBY tsb. Dalam hal direction, pemberantasan korupsi di Indonesia
sudah menunjukan arah yang jelas dan berani. Namun yang masih ditunggu oleh
masyarakat Indonesia adalah apakah prosesnya akan berlangsung lama atau tidak.
“Elemen direction dalam
komunikasi politik sudah tepat sekali,” kata Effendi.
Dengan Aulia Pohan sebagai
tersangka, Effendi memuji Predisen SBY yang sudah menepati janjinya untuk
memberantas korupsi mulai dari rumahnya sendiri, mulai dari saudara sendiri,
luar biasa.
“Kalau Presiden yang bepenampilan
tenang dan sangat hati hati ini dikasih nilai, ini dapat nilai 9,”
candanya.(mok/ape)
Pemilihan Umum
Pemilu (Pemilihan
Umum) Presiden sudah tentu merupakan salah satu contoh komunikasi politik
di Indonesia. Mengapa? Karena salah satu definisi politik adalah seni
memperebutkan sesuatu, – dalam hal ini jabatan sebagai presiden.Strategi dalam
memperebutkan ‘bangku presiden’ ini salah satunya terdapat dalam pencitraan
para calon presiden yang mengikuti pemilu.Pencitraan politik sebenarnya sudah
merebak mulai Pemilu 1999 yang makin lama semakin berkembang hingga kini.Masih
ingat euforia Pemilu tahun 2009 lalu? Pencitraan Sutrisno Bachir, dari partai
Partai Amanat Nasional (PAN), yang memanfaatkan momentum 100 tahun Kebangkitan
Nasional dapat kita lihat dari iklan berslogan “Hidup adalah Perbuatan”.
Wiranto, dari partai Hati Nurani Rakyat (HANURA), secara dramatis ikut makan
nasi aking bersama warga miskin dan mengiklankan tiga seri iklan bertema
kemiskinan. Megawati Soekarno Putri, dari partai PDIP Perjuangan, yang dulu
jarang berkomentar bahkan mengkritik pemerintah dalam ungkapan-ungkapannya,
hingga mengukuhkan citranya sebagai figur yang peduli dengan wong cilik. Jusuf
Kalla, dari partai Golongan Karya (Golkar), hadir dengan slogan “Lebih Cepat
Lebih Baik” dan “Beri Bukti, Bukan Janji” yang mengklaim keberhasilan
pembangunan infrastruktur dan swasembada beras adalah hasil kontribusinya pada
partai Golkar. Juga pencitraan Susilo Bambang Yudhoyono, dari partai Demokrat,
yang mencitrakan hasil-hasil positif dari kinerjanya sebagai presiden di tahun
sebelumnya, seperti penurunan harga Bahan Bakar Minyak, beras untuk rakyat
miskin, peningkatan angka pendidikan, dan lain-lain.
Dalam bukunya,
Komunikasi Politik (1993), Dan Nimmo menjelaskan bahwa setidaknya ada empat
macam pencitraan politik, yaitu pure publicity(publisitas melalui
aktivitas masyarakat dengan setting sosial apa adanya) yang dapat dilihat dalam
pencitraan politik Sutrisno Bachir dengan slogan “Hidup adalah Perbuatan” dan
memanfaatkan momentum 100 tahun Kebangkitan Nasional, free ride
publicity (memanfaatkan akses untuk publisitas) yang banyak terlihat
pada kampanye dalam mensponsori kegiatan sosial di masyarakat, tie-in
publicity(memanfaatkan kegiatan luar biasa untuk publisitas), dan paid
publicity(publisitas berbayar lewat pembelian rubrik di media massa) yang
terpampang pada advertorial di berbagai media massa dan spanduk-spanduknya.
Akan tetapi, politik akan
berjalan dengan baik apabila komunikasi verbal dan nonverbal terjalin dengan
baik pula. Citra yang sebenarnya akan dinilai bukan hanya dari tahap
‘pendekatan’ tetapi juga tahap ‘pacaran’, yaitu ketika para calon presiden yang
telah terpilih menjadi presiden itu membuktikan apa yang telah dijanjikan dan
dicitrakan sebelumnya.




EmoticonEmoticon